Hamparan laut yang siang hari tampak elok kebiruan telah berubah pekat dibungkus gelap. Dari kejauhan hanya tampak kedap kedip cahaya lampu dari kapal dan perahu yang melintas di perairan. Aktivitas bongkar muat yang sepanjang hari menyibukkan Pelabuhan Kalbut Situbondo kini perlahan sepi. Kumandang azan Magrib dari masjid dan musolla mengomandoi semesta beristirahat di malam Jumat (27/5). Ramai mulai menyingkir. Lampu pelabuhan menerangi setiap langkah kaki tiga awak dan seorang penumpang KM Adirasa menuju kapal. Mereka segera berangkat menuju Pulau Raas.
H. Munib, pemilik sekaligus nahkoda KM Adirasa menghubungi kerabatnya melalui sambungan telepon, Doel, sebelum berangkat meninggalkan Kota Santri. Dia meminta dibelikan tiga bungkus nasi dan terang bulan atau martabak manis untuknya makan malam bersama dua ABK KM Adirasa. Sayangnya pesanan yang tersedia hanya nasi bungkus. Sementara terang bulan tak bisa dikabulkan Doel karena penjualnya libur jualan. "Ooo kalau itu penjualnya memang lagi pulang ke Sumatera," ujar H. Munib. Doel tak mencari terang bulan ke tempat lain yang jauh dari pelabuhan karena sebelumnya H. Munib bilang bahwa mereka sebentar lagi akan berangkat.
Waktu keberangkatan pun tiba. Pukul 02.00 lebih beberapa menit. Seluruh muatan yang sebagian besar terdiri dari sembako dan bahan bangunan telah tertata rapi di dalam kapal kayu berukuran panjang sekitar 23 meter dan lebar 4,5 meter tersebut. Seperti umumnya kapal dari Kepulauan Raas, kapal GT26 itu memang rutin membawa jenis muatan seperti itu dari Situbondo, setelah sebelumnya memuat ikan segar dari Pulau Raas. H. Munib bersama dua orang ABK telah mempersiapkan keberangkatan. Mulai siaga di ruang kemudi, bersiap menghidupkan mesin, hingga menggulung tali. Seorang kuli di Pelabuhan Kalbut pun membantu melepaskan tali penambat kapal. Dalam hitungan menit, KM Adirasa pun melaju menyebrangi samudra. Membelah malam yang semakin dingin. Cuaca dan ombak tampak bersahabat mengantar para lelaki tangguh ke pulau mereka. Suara mesin, nyanyian angin, dan hentakan laut ke badan kapal mencipta irama yang mengiringi perjalanan panjang sekitar 4 hingga 07 jam ke depan.
Kecuali seorang penumpang yang akrab disapa Subhan, H.Munib bersama dua ABK KM Adirasa menyantap makanan mereka setelah kapal meninggalkan Pelabuhan Kalbut beberapa saat. Subhan sebelumnya memang diingatkan pria yang mengantarnya ke pelabuhan agar jangan makan malam saat kapal melaju karena khawatir mabuk laut. Sebab, inilah kali pertama pria asal Bondowoso itu merasakan bepergian menggunakan kapal laut. Selepas makan, H. Munib bersama dua ABK KM Adirasa bergantian mengemudi. Sedangkan, Subham tidur berbantalkan tas miliknya di kamar yang berada di area ruangan kemudi kapal. Malam Jumat yang dingin menyimpan kenangan perjalanan empat anak manusia. Kapal yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian itu tampak gagah membelah setiap lapisan ombak di depannya. Membawa takdir yang Allah gariskan untuk secuil dari seluruh isi semesta.
Malam yang terasa makin panjang akhirnya berhenti di tepian fajar. Kapal terus melaju menyambut pagi di tengah luasnya samudra. Udara segar membugarkan raga dan rasa. H. Munib bersama ABK melaksanakan rutinitas permulaan hari mereka. Mulai sholat Subuh, mempersiapkan sarapan di dapur yang terdapat di bagian belakang, hingga memompa air yang masuk ke dalam kapal dengan cara manual. Sampai akhirnya jarum waktu yang terus berputar mengantar KM Adirasa pada akhir riwayatnya. Menjelang pukul 05 pagi, cuaca yang tak bersahabat datang tanpa diduga. Angin kencang disertai amukan ombak menghantam kapal. Situasi tersebut terus berlangsung sampai beberapa saat, sehingga membuat seluruh awak kapal siaga. Termasuk memompa air laut yang volumenya semakin banyak di dalam kapal. "Padahal Pulau Sapudi sudah kelihatan. Sekitar dua jam lagi insya Allah sudah sampai pulau (Raas)," tutur Pak Arifin, salah seorang ABK KM Adirasa menceritakan peristiwa bersejarah dalam hidupnya itu.
Kepulauan Raas memang terdiri dari beberapa pulau yang berpenghuni. Satu di antara nama pulau tersebut yaitu Pulau Raas, yang menjadi ibu kota kecamatan sekaligus induk kepulauan. Satu pulau lainnya bernama Pulau Tonduk yang lokasinya berada di bagian timur Pulau Raas. Meski Pulau Tonduk sudah terlihat dari jarak cukup jauh, namun jaringan telekomunikasi belum muncul di layar handphone awak kapal KM Adirasa Semakin dekat kapal ke arah pulau semakin banyak pula volume air yang masuk ke dalam kapal. Bahkan debit air yang masuk lebih banyak dibandingkan dengan air yang berhasil dipompa. Situasi semakin menegangkan karena alkon pompa yang biasa dipakai tak dapat beroperasi akibat terendam air laut. Awak kapal tak bisa menghubungi keluarga dan kerabat di pulau untuk dimintai bantuan karena terkendala jaringan telekomunikasi.
Keadaan menuntut mereka sendiri yang harus melahirkan solusi terhadap situasi tersebut. Namun daya dan ikhtiar manusia teramat berbatas. H. Munib yang awalnya optimistis masih bisa memperbaiki alkon bermasalah tersebut perlahan mulai menyerah. Di waktu bersamaan serbuan air laut semakin tak bisa dihadang. Semua muatan nyaris terendam. Ekspresi panik dan keringat dingin terpasang di wajah H. Munib dkk. Terlebih Subhan yang sejak kondisi genting itu terlihat cukup ketakutan. Badan kapal perlahan mulai turun dari permukaan laut. Mesin tak lagi bersuara dalam kerumunan air laut. Beruntung KM Adirasa dilengkapi dengan rakit berukuran sekitar 1x3 meter yang terbuat dari gabus. Alat itulah yang langsung disiapkan sebagai tempat untuk menyelamatkan diri. "Kapal saya sudah tak ada lagi, Pak Arifin," ucap H. Munib pelan di tengah situasi nahas tersebut.
Pak Arifin yang terbilang paling senior di antara rekan-rekannya lalu meminta H. Munib cs pindah terlebih dahulu ke atas rakit. Terutama mengevakuasi Subhan yang tak pandai berenang. Sejurus kemudian mereka pun mengambil tas masing-masing beserta beberapa styrofoam berukuran sedang yang tersedia di atas kapal. Tak lupa pula membawa jaket pelampung yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Selain itu, hal penting yang tentu saja tak boleh dilupakan adalah membawa makanan dan minuman untuk bertahan hidup selama mengapung di atas rakit. Di tengah kondisi yang tak normal itu mereka hanya sempat membawa 12 botol air mineral tanggung dan 8 bungkus roti sisir. Melihat kondisi badan kapal yang hanya tersisa beberapa sentimeter lagi di atas permukaan laut menuntut Pak Arifin segera menyusul rekan-rekannya ke atas rakit. Dan, sebelum riwayat KM Adirasa benar-benar berakhir, H. Munib yang berada di atas rakit sempat mengucapkan salam perpisahan untuk kali terakhir dengan kapal yang belasan tahun menemaninya itu. "Selamat tinggal, Adirasa...," tuturnya lirih sambil menatap lekat-lekat kapalnya yang dalam hitungan detik akan hilang ditelan samudra.
KM Adirasa seakan tak sabar bercumbu dengan dasar laut. Ia bahkan membawa sebagian besar muatannya. Sebagian lainnya hanyut dibawa ombak yang bersekutu dengan derasnya arus. Sedangkan H. Munib dan tiga rekannya mengapung di atas rakit. Menuruti kemana arus membawa mereka. Mencoba mengerti kemauan ombak yang mengajak mereka bergerak serentak. Menerima takdir Allah Yang Maha Kuasa. Mentari Jumat tak henti memainkan teriknya di atas ubun-ubun empat orang kesusahan itu. Segerombolan burung-burung kecil yang kadang melintas di bawah awan putih tak bisa dimintai tolong. Mereka hanya berkicau. Mungkin menyemangati. Mungkin juga memanggil orang lain agar datang menolong. Mungkin pula menambah kosa kata doa yang dilafalkan H. Munib cs pada Allah, Tuhan Maha Penyanyang.
KM Adirasa boleh tenggelam ke lautan paling dasar. Tapi tidak dengan tekad dan harapan pemilik dan awaknya. Tekad untuk melanjutkan hidup tetap mengapung seperti raga mereka. Harapan selamat dari musibah tertambat kuat di jiwa mereka. H. Munib cs mengeja waktu di atas rakit yang lebarnya membuat empat orang tak leluasa bergerak. Hanya bisa duduk bersila dan sesekali selonjoran. Kadang mereka saling tatap satu sama lain. Lalu menoleh ke sekelilingnya yang tak ada benda apapun sepanjang mata memandang. Jika menegok ke atas, maka taman langit terbentang dengan teramat luas. Sungguh merupakan hidup yang baru. Harus dijalani. Jika lapar, mereka akan membagi roti dan air mineral dengan super irit. Tak perlu sampai kenyang. Seadanya. Agar masih ada makanan dan minuman yang dipakai bertahan hidup. Apalagi belum jelas sampai kapan mereka menjalani hari-hari dengan cara asing seperti itu. Mulai cara melaksanakan sholat hingga cara memulai dan menutup hari.
Pada pagi keesokan harinya, H. Munib cs menyaksikan keajaiban yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tanpa diduga tiba-tiba seikat roti merapat ke rakit mereka. Pak Arifin tak asing dengan barang tersebut. Roti yang terbungkus plastik transparan itu merupakan salah satu barang muatan mereka. Ungkapan syukur serentak mereka ucapkan. Ternyata doa-doa mereka di tengah duka mulai diijabah Allah. Dengan roti itulah pasokan makanan bertambah. Bahkan bisa digunakan sampai hari ketiga mereka hidup di tengah samudra luas seperti itu. Adapun ketersediaan air tak bisa bertahan lama meski mengonsumsinya dengan super irit. Satu-satunya solusi untuk masalah kebutuhan haus dahaga adalah dengan memanfaatkan air laut.
"Awalnya dicoba minum air laut saja, tapi nggak kuat karena rasanya terlalu asin. Lalu dicoba dikasi teh celup yang kebetulan ada di tas salah seorang di antara kami, ternyata rasanya juga tetap tidak enak. Tapi karena tidak ada pilihan lain, ya sudah minum air laut saja," cerita Pak Arifin lantas tertawa mengenang kisah hidupnya itu.
Pak Arifin dan rekan-rekannya memang mulai enjoy dengan kehidupan mereka di atas rakit. Tak ada lagi rasa waswas seperti saat kapal mereka akan tenggelam. Pak Arifin mengaku pasrah dengan jalan hidupnya. Ikhlas menerima takdirnya. Jika memang Allah memutuskan dia bersama rekannya selamat dari maut, maka mereka pasti selamat. Berapa lama pun mereka mengapung, serta kemanapun ombak dan arus membawa. Sebaliknya, jika Allah menakdirkan mereka meninggal, maka itulah skenario hidup terbaik dari Sang Pencipta. Satu-satunya yang dia khawatirkan adalah kondisi istrinya yang pasti sedang tak baik-baik saja saat suaminya yang keluar rumah untuk berlayar tapi tidak kunjung pulang selama beberapa hari. "Apalagi dia (istrinya) suka pingsan jika ada masalah serius," kata Pak Arifin.
Doa-doa Pak Ros dan rekan-rekannya kembali membuahkan hasil pada hari keempat mereka mengapung di atas rakit. Yaitu pada Senin (30/5). Sekitar pukul 15.00, kapal kayu bernama KM Reformasi meluncur ke lokasi mereka. Semakin mendekat kapal itu, maka semakin bahagia perasaan mereka. Dengan berhasil dievakuasi ke atas kapal tersebut, Pak Arifin tak kan lagi melewati malam layaknya peronda yang tak bisa tidur nyenyak sepanjang malam seperti tiga malam yang mereka lalui di atas rakit. Dia bersyukur. Senang. Apalagi dia yakin selama beberapa hari sebelum ditemukan, masyarakat Raas pasti berusaha mencari keberadaan KM Adirasa beserta awaknya melalui beberapa kapal. Terlebih, pada malam sebelumnya, dari kejauhan mereka sempat melihat cahaya lampu yang diyakini merupakan lampu kapal yang mencari mereka. Namun karena keterbatasan alat, Pak Arifin cs tak bisa memberi kode apapun agar kapal tersebut mendekat ke arah mereka.
Kini, Pak Arifin, H. Munib, dan dua rekannya telah berhasil merangkai kisah penting dalam lembaran sejarah Pulau Raas. Sejarah tentang keajaiban doa. Sejarah tentang ayah yang berjuang keras untuk masa depan anak dan keluarganya. Sejarah tentang ketangguhan dan jiwa pantang menyerah. Sejarah tentang kecintaan masyarakat pada sesamanya. Sejarah ini adalah warisan mulia untuk generasi masa depan. Mereka harus membaca bahwa Allah cinta pada hamba-Nya. Mereka harus membaca bahwa orang tua mereka adalah kumpulan pria tangguh. Mereka harus membaca bahwa pulau tempat mereka lahir dan tumbuh pernah tersaji festival cinta yang mengharu biru. Maka, tolong, jangan kotori warisan putih ini.(*)
*Immwhydiii/PIMREDBanomLiterasiAdirasa
