Welcome to my personal blog para pembaca diksi seorang santri

saya menulis maka saya ada. begitulah sekiranya kiprah seorang jurnalis.

Tentang Aku

Saya Mahasiswa santri Active

Imam wahyudi dilahirkan di Kepulauan Raas Sumenep. Tepat pada tanggal 13 September 2003 dikalah dunia berbahagia. Jenjang Pendidikan pertama dihabiskan di tanah kelahirannya sendiri, tepatnya di SDN Alasmalang II lulus tahun 2014. Kemudian, orang yang kerap disapa imam ini sejak kecilnya melanjutkan masa pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah Sirajul Akhyar, Yayasan ini berada di naungan Pondok Pesantren Sirajul Akhyar. Memang sejak kecil orang tuanya lebih men-support terhadap imam untuk belajar keilmuan yang masih ada hubungannya dengan ke-religiusan. semasa menimba ilmunya di Mts Sirajul Akhyar, dia aktif dalam mengikuti kursusan Bahasa inggris di Al mubtadiin English Course. Dalam kegigihannya dalam mempelajari Bahasa inggris, dia pernah menjuarai lomba pidato Bahasa inggris se Kecamatan Raas di tahun 2017. Tiga tahun pun telah dilaluinya mengenyam Pendidikan di Mts Sirajul akhyar, tetapi dia masih haus akan ilmu, pada akhirnya dia merantau ke Pulau sebrang tepatnya di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Disinilah dia menghilangkan dahaga keilmuannya di Sekolah Menengah Atas Ibrahimy (SMAI). Semasa SMA-nya, dia mulai mengenal dunia organisasi, mulai dari organisasi KORDES, dan IKSASS. Di akhir masa putih abu-abunya, dia terfikirkan akan bakat yang dia miliki, yakni Bahasa inggris. Dan pada akhirnya, dia terfikirkan untuk masuk asrama khusus, especially Asrama Bahasa di tahun 2020. Usai meyelesaikan masa studinya di sekolah menengah, dia masih tetap memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas ibrahimy tepatnya di Fakultas Sains Dan Teknologi Program Studi Sistem Informasi. Pertama menginjakkan dunia kampus, dia tertarik untuk masuk ke dunia jurnalistik, entah karena apa? Dia kemudian mendaftar sebagai crew magang di Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy (LPMI). Akhirnya dia ikut magang selama tiga bulan dengan penuh semangat. And finally dia lulus sebagai anggota / crew sah secara administrasi setelah melalui proses magang tiga bulan yang telah dilaluinya. Dia diamanahi sebagai Reporter di LPM Ibrahimy, mungkin karena sifatnya yang kepo akan kehidupan orang dia diberi job seperti itu. Baginya, memainkan diksi-diksi aksara penuh makna adalah kiprah paling ideal dalam hidupnya, daripada memainkan rasa yang tak biasa:v Mungkin itu saja introduction tentang diriku:)

Menulis adalah hobiku yang nantinya bisa menjadi manfaat bagi orang lain yang membacanya

Pekerjaan Saya

Jurnalistik Pesantren

jurnalis santri

saya menulis maka saya ada.

Photography of Santri

menagabadi moment setiap acara pesantren merupakan habit dari seorang jurnalis santri

Pers Pesantren

Seseorang yang berkecimpung pada penataan dunia jurnalistik atau tulis-menulis pada suatu lembaga pesantren dapat dikatakan sebagai aktivis dakwah Islam. Yang mana prinsip para aktivis dakwah Islam mengacu pada keteladanan Rasulullah sebagai sang Uswatun Hasanah dalam karakter maupun peran di berbagai bidang kehidupan. Syaikh Abdul Karim Zaidan menekankan metode dakwah saat ini tidak terlepas dari media sosial. Baginya perkembangan zaman memiliki keuntungan tersendiri demi mewujudkan dakwah Islam itu sendiri. Tetapi beliau juga meningkatkan bahwa ketika berdakwah melalui internet, tidak hanya berfokus pada ranah yang tidak memiliki nilai dakwah, tetapi harus memfokuskan pada nilai dakwah itu sendiri. Syaikh Abdul Karim Zaidan juga menjelaskan dalam karyanya yang berjudul “Fiqhu Dakwah”, bahwasanya internet adalah tempat yang subur untuk menanggapi tuduhan dan kecurigaan musuh-musuh Islam, dan itu adalah salah satu sarana kontemporer yang muncul di zaman kita dengan kekuatan, tetapi pemanggil harus fokus pada bidang dakwah di dalamnya. Tanpa membuang energinya untuk hal-hal sampingan yang tidak menguntungkannya.

CLEAN CODE

nikmati proses acuhkan mereka yang memprotes.

PROGRESS AND ACCORDIANS

Dont give up before trying

24/7 Support

contact us as photograper santri.

1254

HAPPY CLIENTS

1424

COMPLETE PROJECT

2136

CUP OF COFFIE

15

AWARDS

TEAM

This is my Journal

Hay guys, perkenalkan saya imam wahyudi, seorang jurnalis yang santri. saya sekarang saya aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy sebagai reporter.

Photography 95%
Videography 85%
Jurnalistik Pesantren 75%
Pers 60%
image
Imam Wahyudi
Pers Jurnalistik Santri
image
Immphotographysantri
portofolio santri
image
Imm desain grafis
Iam Graphics Designer
image
imm portofolio
pengabadi moment kampus pesantren
harga per foto

pilih sesuai selera anda guys

19$

per month
  • 10 kali potrer

49$

per month
  • harga santri dijamin murah tapi tidak murahan

99$

per month
  • sangat bagus hasilnya
img

Jounalist of Santri

Imam Wahyudi

saya berprofesi sebagai reporter di LPM Ibrahimy sejak saya menginjakkan kaki di dunia kampus.

img

Journalist of Santri

profile

Jurnalistik Islami adalah Jurnalisme dakwah, maka setiap jurnalis Muslim, yakni wartawan dan penulis yang beragam Islam berkewajiban menjadikan Islam sebagai ideologi dalam profesinya, baik yang bekerja pada media massa umum maupun media massa Islam.

img

Journalist of Santri

CEO, Photography Santri

aku hanyalah pengabadi moment di setiap event kepesantrenan, bermodalkan kamera usang dan recorder rekaman, LPM Ibrahimy sebagai wadah untuk mempublish. disanalah saya berkiprah sesuai dengan job saya sebagai reporter.

Blog

LATEST FORM Blog

SELAMAT TINGGAL ADIRASA

Hamparan laut yang siang hari tampak elok kebiruan telah berubah pekat dibungkus gelap. Dari kejauhan hanya tampak kedap kedip cahaya lampu dari kapal dan perahu yang melintas di perairan. Aktivitas bongkar muat yang sepanjang hari menyibukkan Pelabuhan Kalbut Situbondo kini perlahan sepi. Kumandang azan Magrib dari masjid dan musolla mengomandoi semesta beristirahat di malam Jumat (27/5). Ramai mulai menyingkir. Lampu pelabuhan menerangi setiap langkah kaki tiga awak dan seorang penumpang KM Adirasa menuju kapal. Mereka segera berangkat menuju Pulau Raas. H. Munib, pemilik sekaligus nahkoda KM Adirasa menghubungi kerabatnya melalui sambungan telepon, Doel, sebelum berangkat meninggalkan Kota Santri. Dia meminta dibelikan tiga bungkus nasi dan terang bulan atau martabak manis untuknya makan malam bersama dua ABK KM Adirasa. Sayangnya pesanan yang tersedia hanya nasi bungkus. Sementara terang bulan tak bisa dikabulkan Doel karena penjualnya libur jualan. "Ooo kalau itu penjualnya memang lagi pulang ke Sumatera," ujar H. Munib. Doel tak mencari terang bulan ke tempat lain yang jauh dari pelabuhan karena sebelumnya H. Munib bilang bahwa mereka sebentar lagi akan berangkat. Waktu keberangkatan pun tiba. Pukul 02.00 lebih beberapa menit. Seluruh muatan yang sebagian besar terdiri dari sembako dan bahan bangunan telah tertata rapi di dalam kapal kayu berukuran panjang sekitar 23 meter dan lebar 4,5 meter tersebut. Seperti umumnya kapal dari Kepulauan Raas, kapal GT26 itu memang rutin membawa jenis muatan seperti itu dari Situbondo, setelah sebelumnya memuat ikan segar dari Pulau Raas. H. Munib bersama dua orang ABK telah mempersiapkan keberangkatan. Mulai siaga di ruang kemudi, bersiap menghidupkan mesin, hingga menggulung tali. Seorang kuli di Pelabuhan Kalbut pun membantu melepaskan tali penambat kapal. Dalam hitungan menit, KM Adirasa pun melaju menyebrangi samudra. Membelah malam yang semakin dingin. Cuaca dan ombak tampak bersahabat mengantar para lelaki tangguh ke pulau mereka. Suara mesin, nyanyian angin, dan hentakan laut ke badan kapal mencipta irama yang mengiringi perjalanan panjang sekitar 4 hingga 07 jam ke depan. Kecuali seorang penumpang yang akrab disapa Subhan, H.Munib bersama dua ABK KM Adirasa menyantap makanan mereka setelah kapal meninggalkan Pelabuhan Kalbut beberapa saat. Subhan sebelumnya memang diingatkan pria yang mengantarnya ke pelabuhan agar jangan makan malam saat kapal melaju karena khawatir mabuk laut. Sebab, inilah kali pertama pria asal Bondowoso itu merasakan bepergian menggunakan kapal laut. Selepas makan, H. Munib bersama dua ABK KM Adirasa bergantian mengemudi. Sedangkan, Subham tidur berbantalkan tas miliknya di kamar yang berada di area ruangan kemudi kapal. Malam Jumat yang dingin menyimpan kenangan perjalanan empat anak manusia. Kapal yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian itu tampak gagah membelah setiap lapisan ombak di depannya. Membawa takdir yang Allah gariskan untuk secuil dari seluruh isi semesta. Malam yang terasa makin panjang akhirnya berhenti di tepian fajar. Kapal terus melaju menyambut pagi di tengah luasnya samudra. Udara segar membugarkan raga dan rasa. H. Munib bersama ABK melaksanakan rutinitas permulaan hari mereka. Mulai sholat Subuh, mempersiapkan sarapan di dapur yang terdapat di bagian belakang, hingga memompa air yang masuk ke dalam kapal dengan cara manual. Sampai akhirnya jarum waktu yang terus berputar mengantar KM Adirasa pada akhir riwayatnya. Menjelang pukul 05 pagi, cuaca yang tak bersahabat datang tanpa diduga. Angin kencang disertai amukan ombak menghantam kapal. Situasi tersebut terus berlangsung sampai beberapa saat, sehingga membuat seluruh awak kapal siaga. Termasuk memompa air laut yang volumenya semakin banyak di dalam kapal. "Padahal Pulau Sapudi sudah kelihatan. Sekitar dua jam lagi insya Allah sudah sampai pulau (Raas)," tutur Pak Arifin, salah seorang ABK KM Adirasa menceritakan peristiwa bersejarah dalam hidupnya itu. Kepulauan Raas memang terdiri dari beberapa pulau yang berpenghuni. Satu di antara nama pulau tersebut yaitu Pulau Raas, yang menjadi ibu kota kecamatan sekaligus induk kepulauan. Satu pulau lainnya bernama Pulau Tonduk yang lokasinya berada di bagian timur Pulau Raas. Meski Pulau Tonduk sudah terlihat dari jarak cukup jauh, namun jaringan telekomunikasi belum muncul di layar handphone awak kapal KM Adirasa Semakin dekat kapal ke arah pulau semakin banyak pula volume air yang masuk ke dalam kapal. Bahkan debit air yang masuk lebih banyak dibandingkan dengan air yang berhasil dipompa. Situasi semakin menegangkan karena alkon pompa yang biasa dipakai tak dapat beroperasi akibat terendam air laut. Awak kapal tak bisa menghubungi keluarga dan kerabat di pulau untuk dimintai bantuan karena terkendala jaringan telekomunikasi. Keadaan menuntut mereka sendiri yang harus melahirkan solusi terhadap situasi tersebut. Namun daya dan ikhtiar manusia teramat berbatas. H. Munib yang awalnya optimistis masih bisa memperbaiki alkon bermasalah tersebut perlahan mulai menyerah. Di waktu bersamaan serbuan air laut semakin tak bisa dihadang. Semua muatan nyaris terendam. Ekspresi panik dan keringat dingin terpasang di wajah H. Munib dkk. Terlebih Subhan yang sejak kondisi genting itu terlihat cukup ketakutan. Badan kapal perlahan mulai turun dari permukaan laut. Mesin tak lagi bersuara dalam kerumunan air laut. Beruntung KM Adirasa dilengkapi dengan rakit berukuran sekitar 1x3 meter yang terbuat dari gabus. Alat itulah yang langsung disiapkan sebagai tempat untuk menyelamatkan diri. "Kapal saya sudah tak ada lagi, Pak Arifin," ucap H. Munib pelan di tengah situasi nahas tersebut. Pak Arifin yang terbilang paling senior di antara rekan-rekannya lalu meminta H. Munib cs pindah terlebih dahulu ke atas rakit. Terutama mengevakuasi Subhan yang tak pandai berenang. Sejurus kemudian mereka pun mengambil tas masing-masing beserta beberapa styrofoam berukuran sedang yang tersedia di atas kapal. Tak lupa pula membawa jaket pelampung yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Selain itu, hal penting yang tentu saja tak boleh dilupakan adalah membawa makanan dan minuman untuk bertahan hidup selama mengapung di atas rakit. Di tengah kondisi yang tak normal itu mereka hanya sempat membawa 12 botol air mineral tanggung dan 8 bungkus roti sisir. Melihat kondisi badan kapal yang hanya tersisa beberapa sentimeter lagi di atas permukaan laut menuntut Pak Arifin segera menyusul rekan-rekannya ke atas rakit. Dan, sebelum riwayat KM Adirasa benar-benar berakhir, H. Munib yang berada di atas rakit sempat mengucapkan salam perpisahan untuk kali terakhir dengan kapal yang belasan tahun menemaninya itu. "Selamat tinggal, Adirasa...," tuturnya lirih sambil menatap lekat-lekat kapalnya yang dalam hitungan detik akan hilang ditelan samudra. KM Adirasa seakan tak sabar bercumbu dengan dasar laut. Ia bahkan membawa sebagian besar muatannya. Sebagian lainnya hanyut dibawa ombak yang bersekutu dengan derasnya arus. Sedangkan H. Munib dan tiga rekannya mengapung di atas rakit. Menuruti kemana arus membawa mereka. Mencoba mengerti kemauan ombak yang mengajak mereka bergerak serentak. Menerima takdir Allah Yang Maha Kuasa. Mentari Jumat tak henti memainkan teriknya di atas ubun-ubun empat orang kesusahan itu. Segerombolan burung-burung kecil yang kadang melintas di bawah awan putih tak bisa dimintai tolong. Mereka hanya berkicau. Mungkin menyemangati. Mungkin juga memanggil orang lain agar datang menolong. Mungkin pula menambah kosa kata doa yang dilafalkan H. Munib cs pada Allah, Tuhan Maha Penyanyang. KM Adirasa boleh tenggelam ke lautan paling dasar. Tapi tidak dengan tekad dan harapan pemilik dan awaknya. Tekad untuk melanjutkan hidup tetap mengapung seperti raga mereka. Harapan selamat dari musibah tertambat kuat di jiwa mereka. H. Munib cs mengeja waktu di atas rakit yang lebarnya membuat empat orang tak leluasa bergerak. Hanya bisa duduk bersila dan sesekali selonjoran. Kadang mereka saling tatap satu sama lain. Lalu menoleh ke sekelilingnya yang tak ada benda apapun sepanjang mata memandang. Jika menegok ke atas, maka taman langit terbentang dengan teramat luas. Sungguh merupakan hidup yang baru. Harus dijalani. Jika lapar, mereka akan membagi roti dan air mineral dengan super irit. Tak perlu sampai kenyang. Seadanya. Agar masih ada makanan dan minuman yang dipakai bertahan hidup. Apalagi belum jelas sampai kapan mereka menjalani hari-hari dengan cara asing seperti itu. Mulai cara melaksanakan sholat hingga cara memulai dan menutup hari. Pada pagi keesokan harinya, H. Munib cs menyaksikan keajaiban yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tanpa diduga tiba-tiba seikat roti merapat ke rakit mereka. Pak Arifin tak asing dengan barang tersebut. Roti yang terbungkus plastik transparan itu merupakan salah satu barang muatan mereka. Ungkapan syukur serentak mereka ucapkan. Ternyata doa-doa mereka di tengah duka mulai diijabah Allah. Dengan roti itulah pasokan makanan bertambah. Bahkan bisa digunakan sampai hari ketiga mereka hidup di tengah samudra luas seperti itu. Adapun ketersediaan air tak bisa bertahan lama meski mengonsumsinya dengan super irit. Satu-satunya solusi untuk masalah kebutuhan haus dahaga adalah dengan memanfaatkan air laut. "Awalnya dicoba minum air laut saja, tapi nggak kuat karena rasanya terlalu asin. Lalu dicoba dikasi teh celup yang kebetulan ada di tas salah seorang di antara kami, ternyata rasanya juga tetap tidak enak. Tapi karena tidak ada pilihan lain, ya sudah minum air laut saja," cerita Pak Arifin lantas tertawa mengenang kisah hidupnya itu. Pak Arifin dan rekan-rekannya memang mulai enjoy dengan kehidupan mereka di atas rakit. Tak ada lagi rasa waswas seperti saat kapal mereka akan tenggelam. Pak Arifin mengaku pasrah dengan jalan hidupnya. Ikhlas menerima takdirnya. Jika memang Allah memutuskan dia bersama rekannya selamat dari maut, maka mereka pasti selamat. Berapa lama pun mereka mengapung, serta kemanapun ombak dan arus membawa. Sebaliknya, jika Allah menakdirkan mereka meninggal, maka itulah skenario hidup terbaik dari Sang Pencipta. Satu-satunya yang dia khawatirkan adalah kondisi istrinya yang pasti sedang tak baik-baik saja saat suaminya yang keluar rumah untuk berlayar tapi tidak kunjung pulang selama beberapa hari. "Apalagi dia (istrinya) suka pingsan jika ada masalah serius," kata Pak Arifin. Doa-doa Pak Ros dan rekan-rekannya kembali membuahkan hasil pada hari keempat mereka mengapung di atas rakit. Yaitu pada Senin (30/5). Sekitar pukul 15.00, kapal kayu bernama KM Reformasi meluncur ke lokasi mereka. Semakin mendekat kapal itu, maka semakin bahagia perasaan mereka. Dengan berhasil dievakuasi ke atas kapal tersebut, Pak Arifin tak kan lagi melewati malam layaknya peronda yang tak bisa tidur nyenyak sepanjang malam seperti tiga malam yang mereka lalui di atas rakit. Dia bersyukur. Senang. Apalagi dia yakin selama beberapa hari sebelum ditemukan, masyarakat Raas pasti berusaha mencari keberadaan KM Adirasa beserta awaknya melalui beberapa kapal. Terlebih, pada malam sebelumnya, dari kejauhan mereka sempat melihat cahaya lampu yang diyakini merupakan lampu kapal yang mencari mereka. Namun karena keterbatasan alat, Pak Arifin cs tak bisa memberi kode apapun agar kapal tersebut mendekat ke arah mereka. Kini, Pak Arifin, H. Munib, dan dua rekannya telah berhasil merangkai kisah penting dalam lembaran sejarah Pulau Raas. Sejarah tentang keajaiban doa. Sejarah tentang ayah yang berjuang keras untuk masa depan anak dan keluarganya. Sejarah tentang ketangguhan dan jiwa pantang menyerah. Sejarah tentang kecintaan masyarakat pada sesamanya. Sejarah ini adalah warisan mulia untuk generasi masa depan. Mereka harus membaca bahwa Allah cinta pada hamba-Nya. Mereka harus membaca bahwa orang tua mereka adalah kumpulan pria tangguh. Mereka harus membaca bahwa pulau tempat mereka lahir dan tumbuh pernah tersaji festival cinta yang mengharu biru. Maka, tolong, jangan kotori warisan putih ini.(*) *Immwhydiii/PIMREDBanomLiterasiAdirasa
Contact

Send Us A Email

Im Journalist of Santri

iam imam wahyudi dilahirkan di Sumenep tepatnya di tanah Adirasa. Pulau Raas namanya, tempat yang identik dengan ikan yang bernama manengseng.

Pemberian cinderamata dari Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy kepada Bupati Sumenep

Pemberian cinderamata dari Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy kepada Bupati Sumenep

ipers@ibrahimy.ac.id

Bupati Sumenep Kunjungi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah LPMI- Beberapa hari yang lalu Universitas Ibrahimy kedatangan tamu kehormatan dari kota Sumenep (20/08/2022). Tamu yang dimaksud adalah orang nomor satu di kota Sumenep yakni Bupati Sumenep (Bapak Ahmad Fauzi,S.H.,M.H.) Tepat sebelum adzan sholat isya’ dikumandangkan, Bupati Sumenep beserta rombongannya telah tiba di lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iah. Sebelum beliau beserta rombongannya menuju ke kantor Universitas Ibrahimy, beliau beserta rombongannya sempat mampir di kediaman Ahlul bait pengasuh (KHR Ach Azaim Ibrahimy). Di sana beliau disambut dengan hangat oleh Nyai Hj. Isya’iyah As’ad. Setelah itu, beliau melakukan ramah-tamah bersama dengan beberapa dosen dan jajaran Rektorat Universitas Ibrahimy di depan dhalem salah satu Ahlul Bait Pengasuh. Baru sekitar pukul 20.00 WIB beliau segera berangkat menuju kantor Universitas Ibrahimy untuk melaksanakan tujuan dan maksud dari kunjungan tersebut. Tujuan dan maksud dari kunjungan Bupati Sumenep beserta rombongannya tersebut adalah untuk menyerahkan beasiswa kepada mahasiswa Universitas Ibrahimy yang berasal dari Kabupaten Sumenep secara simbolis. Terdapat sekitar 3 mahasiswa dan 2 mahasiswi yang mendapatkan beasiswa tersebut. Beasiswa tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sumenep kepada mahasiswa maupun mahasiswi dari Sumenep yang telah terpilih dan resmi mendapatkan beasiswa tersebut. Sistematika dalam acara penyerahan beasiswa tersebut dikemas dengan acara Ceremonial. Acara yang pertama yakni pembukaan, acara yang kedua adalah sambutan dari Rektor Universitas Ibrahimy (KH. Ach. Fadhail, S.H.,M.H.) Dalam sambutannya, Rektor Universitas Ibrahimy menyampaikan kebahagiaan beliau atas kunjungan yang dilakukan oleh Bupati Sumenep ke Universitas Ibrahimy terlebih ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Beliau juga menyampaikan harapan beliau kepada mahasiswa maupun mahasiswi yang mendapatkan bantuan beasiswa tersebut agar menggunakannya sebaik mungkin. “Saya berharap kalian seluruhnya untuk menggunakan dana beasiswa ini untuk hal-hal yang bermanfaat terutama perihal yang dapat mendukung kepada akademik anda di Universitas Ibrahimy”. Tutur Beliau. Setelah sambutan dari Rektor telah usai, sambutan selanjutnya dari Bapak Ahmad Fauzi,S.H.,M.H. selaku Bupati kota Sumenep. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa kebahagiannya karena dapat membantu Universitas Ibrahimy dan berharap ke depannya agar bisa membantu Universitas Ibrahimy lebih banyak lagi. “Selanjutnya, jika Universitas Ibrahimy membutuhkan sesuatu silahkan komunikasikan kepada Ust. Zubaidi. Kami akan membantu sebisa mungkin dan semampu kami, karena kami lihat banyak warga kami yakni Masyarakat Sumenep yang sedang melanjutkan studinya di Universitas Ibrahimy. Hal tersebut tentunya mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan Sumber Daya Manusia (SDM) Kabupaten Sumenep”. Ungkap beliau. Setelah kata sambutan selesai, acara dilanjutkan dengan penyerahan beasiswa secara simbolis oleh Bupati Sumenep kepada mahasiswa dan mahasiswi dari asal Sumenep yang terpilih. Kemudian setelah itu acara ditutup dengan pembacaan do’a.

mewawancarai Ibu zeiniye, S.Ag

mewawancarai Ibu zeiniye, S.Ag

ipers@ibrahimy.ac.id

Koni Melalui Komisi-E DPRD JATIM Serahkan Bantuan Alat Olahraga ke Universitas Ibrahimy LPMI–Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jawa Timur datang ke Universitas Ibrahimy (UNIB) Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo untuk memberikan bantuan sejumlah perangkat alat-alat olahraga khususnya alat olahraga, pada hari Jum’at (20/08/2022) sekitar pukul 20.45 WIB yang bertempat di ruang rapat Universitas Ibrahimy. Pemberian alat olahraga tersebut selain memang program KONI dalam rangka pemberdayaan olahraga berbasis kesehatan masyarakat, juga dimaksud sebagai bentuk dukungan sekaligus motivasi terhadap mahasiswa dan santri pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang memang menggeluti dunia olahraga, dan juga pemberian alat olahraga ini merupakan program KONI dan Komisi-E DPRD JATIM sejak setahun yang lalu ketika masa pandemi merebak di masyarakat, Kedatangan Komisi-E DPRD Jawa Timur disambut hangat oleh jajaran Rektorat (KH Ach Fadlail, S.H. M.H. Dan Bapak Ir. Abdul Muqsit, M.Ling.) didampingi langsung oleh Bapak Syafiqir Rahman, M.Pd Selaku Kepala Sub Bagian Kemahasiswaan dan Bapak Moh Hafid, M.Pd. selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan. serta perwakilan dari mahasiswa. Bantuan Se-perangkat alat olahraga tersebut diberikan oleh anggota Komisi-E Jawa Timur Ibu Zeiniye, S.Ag. kepada Rektor Universitas Ibrahimy KH. Ach Fadlail, S.H. M.H. Ibu Zei Red, mengungkapkan bahwa “Semua peralatan ini merupakan bantuan dari APBD Provinsi Jawa Timur yang melekat di KONI Jawa Timur, kebetulan KONI ini merupakan mitra dari Komisi-E, maka kami ini membawakan beberapa perangkat peralatan olahraga, mulai dari peralatan sepak bola, futsal, karate, bola volli, bulu tangkis, dan beberapa jenis alat olahraga lainnya. Dan juga kami yakin di Universitas Ibrahimy ini memiliki banyak potensi di beberapa bidang olahraga tersebut dari temen-temen mahasiswa khususnya, dan juga ini bisa digunakan dalam rangka mahasiswa yang berada di Pondok Pesantren bisa menyalurkan kreativitasnya di bidang olahraga sehingga santri dan mahasiswa bisa sehat”. Ungkap beliau, Kesan kami bangga pernah menjadi bagian dari Universitas Ibrahimy dan kami yakin dengan lahirnya UNIB, kualitas Pendidikan yang ada disini jauh lebih baik dan mampu bersaing dengan Universitas diluar sana, oleh karena itu, pesan kami kepada adek-adek mahasiswa agar menggunakan waktu semaksimal mungkin untuk memperdalam keilmuan dari segi apapun lebih-lebih ilmu agamanya yang merupakan ciri khas dari Pondok Pesantren Sukorejo termasuk juga spesifikasi keilmuan yang diambil sesuai dengan Prodi dan Fakultasnya masing-masing, sehingga nanti adek-adek mahasiswa ketika menjadi alumni terjun ditengah-tengah masyarakat bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Imbuh beliau. Bantuan yang diberikan tidak hanya satu jenis peralatan saja, akan tetapi ada berbagai macam. Mulai dari; samsak, body protector, bola, bulu tangkis, drill ladder, hand box, drill ladder. Namun dari beberapa alat olahraga tersebut akan diajukan dulu kepada pengasuh sebelum di distribusikan kepada para santri untuk dilihat kelayakannya dipakai oleh para santri sesuai ketentuan yang ada di Pondok Pesantren. Sebelum kembali, rombongan meminta pihak Universitas untuk bertanda tangan sebagai bukti tanda terima bantuan alat olahraga yang berupa sejumlah peralatan pencak silat tersebut. Setelah itu dilakukan sesi foto bersama dengan pihak Universitas Ibrahimy (UNIB). Imam Wahyudi/LPMI

Hey. Iam Journalist Santri

Dunia tulis menulis tidak hanya milik mereka yang berprofesi sebagai pemburu berita, ataupun mereka yang berkerja di media. Siapapun bisa berkecimpung dalam jurnalistik, tanpa memandang usia, latar belakang pendidikan, agama maupun budaya. Bahkan, dewasa ini jurnalistik sudah digandrungi oleh remaja, terutama santri. Di bawah bimbingan Ustadz M. Mustain Billah, SE, para santri putri Darunnajah Cipining membentuk sebuah wadah untuk penyaluran bakat dan minat di bidang tulis menulis, yang diberi nama WARNA (Wahana Aktualisasi Remaja Santri Aktif). Untuk itu, agar semakin terarah dan bertambah wawasan para santri di bidang jurnalistik, pengurus Organisasi Santri Putri Darunnajah Cipining (OSDC Pi) mengadakan pelatihan jurnalistik sehari, pada hari Jum’at, 16 November 2007. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Mauidhatul Hasanah, alumnus MTs Darunnajah Cipining tahun 1999. Ia adalah juga kakak Khozinatul Hikmah (Kelas V TMI). Peserta yang terdiri dari santri kelas I s.d IV TMI itu tampak begitu tenang mendengarkan satu persatu penjelasan materi yang disampaikan. Lalu pada saat sesi tanya jawab dibuka, narasumber lumayan kerepotan dengan berbagai pertanyaan seputar dunia tulis menulis, baik itu tentang cerpen, novel dan karya-karya ilmiah. Dan yang membuat siswa semakin antusias adalah materi yang disampaikan sangat mudah dipahami.

Contact us only in islamic boarding school

087850756552

saya memotret untuk keabadian

Nikmati pemotretan dengan hati yang tenang, budayakan membaca bismillah sebelum take object

Address

ContactInfo

alamat saya terletak di Jalan Raya Alasmalang Raas Kabupaten Sumenep, aktif ketika pulangan pondok

Address:

Alas Malang Raas Jalan Adirasa kode pos 69453

Phone:

087850756552 or 085334755373

Email:

im1516157@gmail.com